Kamis, 15 Januari 2015

Apakah Ulama Sepakat atau Khilaf Masalah Cadar ?




Fatwa Asy-Syaikh Al-’Allamah Prof. DR. Shalih Al-Fauzan hafizhahullah:
أحسن اللهُ إليكم.. هل هُناك خلافٌ بين العُلماء في كشفِ المرأة لوجهِها أم أنّهم مُتَّفِقون على التّحريم؟ 
▪ مُتَّفِقون على أنّه إذا كانت هُناك فِتنةٌ مِن كشفِ وجهِها فإنّه يجِبُ عليها أنْ تُغطِّيَهُ؛ وليس هُناك أمنٌ مِن الفِتنة. مَن الّذي يأمن مِن الفِتنة؟!
هذا يُعطي أنّهم مُتَّفِقون على أنّه إذا خُشِيَتْ الفِتنة؛ يجِبُ عليها تَغْطِيَتُهُ، والخوفُ مِن الفِتنة مُتوقّع دائِمًا وأبدًا، نعم.
Tanya: Semoga Allah berbuat baik kepadamu Wahai Syaikh, apakah memang ada khilaf ulama tentang hukum membuka wajah bagi wanita (tidak bercadar), ataukah ulama sepakat atas pengharamannya?
Jawab: Ulama sepakat apabila terdapat fitnah (godaan bagi kaum lelaki) maka wajib atas seorang wanita untuk menutup wajahnya; dan kenyataannya tidak mungkin aman dari fitnah, siapakah yang merasa aman dari fitnah?!
Maka ini menunjukkan bahwa para ulama sepakat, apabila dikhawatirkan adanya fitnah maka wajib atas seorang wanita menutup wajahnya, sedang kekhawatiran terhadap fitnah selalu dan selamanya akan tetap ada. Na’am.

Teladan dari para hamba Allah yang termulia



 وعن ابن مسعود رضي الله عنه قال : كأني أنطر إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم يحكي نبيا من الأنبياء, صلوات الله وسلمه عليهم, ضربه قومه فأدموه, وهو يمسح الدم عن وجهه, ويقول : اللهم اغفر لقومي فإنهم لا يعلمون. متفق عليه.
Dan dari ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata : seakan aku melihat kepada Rasul Shalallahu ‘alaihi wasallam mengkisahkan seorang Nabi dari para Nabi-nabi Shalawatullah wasalamuhu ‘alaihim, kaumnya memukulinya dan melukainya hingga berdarah, sedang dia mengusap darah dari wajahnya, dan mengatakan : Yaa Allah berilah ampun kepada kaumku karna sesungguhnya mereka tidak mengetahui. Muttafan ‘Alaihi.
Hadits ini dari ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, memberikan faidah kepada kita akan sifat sabar tidak tergesa-gesa pada diri para Nabi Alaihimush shalatu wasalam, dan kesabaran yang tinggi atas segala gangguan yang ditimpakan kaumnya kepada mereka. Allah berfirman : Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada mereka. Tak ada seorangpun yang dapat merobah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebahagian dari berita rasul-rasul itu.[ QS. Al an’am : 34]
Nabiyullah yang mulia ini, yang dipukul oleh kaumnya hingga berdarah wajahnya, namun ia hanya mengatakan : Yaa Allah berilah ampun kepada kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui. Alangkah sabarnya beliau, terhadap gangguan kaumnya..beliau tidak membalas itu semua dengan cara yang sama, bahkan beliau tidak berdo’a kepada Allah agar Allah membalas apa yang mereka lakukan, karena yang seperti ini jelas-jelas kedholiman terhadap orang lain, terlebih yang didholimi bukan manusia biasa, namun beliau seorang Nabi, yang dekat dengan Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, Rabbnya seluruh alam semesta ini.
Namun beliau hanya mengatakan : Yaa Allah..berilah ampun kepada kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.
Sungguh balasan yang tidak sesuai jika ditimbang kebaikkannya.
Demikianlah para Nabi Shalawatullah ‘alaihim mereka menyeru kepada manusia betul-betul hanya menginginkan kebaikkan semata untuk Ummatnya. Namun mereka tidak mengetahuinya.. Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kalangan kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan kebaikkan bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. [QS. At Taubah : 128]
Seakan-akan kaum yang memukuli Nabi mereka ini, Muslim, akan tetapi terjadi pada diri mereka kemarahan pada Nabi ini, maka terjadilah apa yang terjadi merekapun kemukulinya, diapun berdo’a dengan memohon ampun untuk mereka, dimana, jikalau mereka ini [ kaum tersebut ] bukan orang muslim niscaya Nabi tersebut akan berdo’a memintakan hidayah untuk kaum tersebut !, seperti misalkan : Yaa Allah berilah hidayah kepada kaumku, akan tetapi dhahir hadits tersebut, bahwasanya mereka Muslim.
Oleh karna inilah pendapat yang Rajih terhadap siapa yang mencela Rasul Shalallahu ‘Alaihi wasallam, kemudian ia bertaubat, maka diterima taubatnya, akan tetapi dibunuh, adapun orang yang mencela Allah kemudian ia bertaubat, maka taubatnya diterima, akan tetapi tidak dibunuh.
Bukanlah ini dalam artian, mencela Rasul lebih besar perkaranya dari mencela Allah, bahkan mencela Allah lebih besar hukumnya.
Akan tetapi Allah telah mengkhabarkan kepada kita bahwasanya Allah mengampuni siapa yang mencela hak-Nya bagi siapa yang bertaubat.
Adapun Rasul Shalallahu ‘alaihi wasallam maka beliau telah meninggal, siapa yang mencela beliau sungguh dia telah menghinakan hak beliau, maka apabila dia bertaubat, maka sesungguhnya Allah akan mengampuninya, dan mengampuni kekufurannya karena sebab celaan dia terhadap Rasul, akan tetapi haknya Rasul masih tetap, maka oleh sebab itu dia dibunuh.
بارك الله فيكم
محمد رفقي ابن جنيدى الكلمنتنى

Rabu, 14 Januari 2015

Faidah Bhs.Arab



 مِن الصَرْفِ   الملَخَّصُ فِى بَعْثِ مَمْنُوْعِ

[ Ringkasan pembahasan Mamnu’ min as-Sharf ]
Harokat fathah sebagai ganti dari kasroh terdapat pada satu tempat, yaitu : Isim laa yan sharif
Isim laa yan sharif adalah : Isim yang terdapat padanya  dua ‘ILAL dari Sembilan ‘ilal, atau terdapat padanya satu ilal dari sembilan ilal, yang menduduki kedudukan ke-duanya.
‘lal  sembilan yang dimaksud tersebut adalah :
1.      Alif ta’niits mamdudah
2.      Alif ta’niits maqshurah
3.      Sighah muntahal jumu’
4.      Wazan fi’il
5.      Al-‘adl
6.      Tarkiibul mazjy
7.      Ziyaadah alif dan nun
8.      Al-‘ujmah
9.      Ta’niits secara Lafadz dan ma’na
Sembilan ‘ilal ini telah terkumpul pada ucapan seorang Naadhim, yaitu Muhammad bin An-nuhaas, lihat Kawakib 1/ 89. yaitu :
اجْمع وزِن عادِلاً أَنِّثْ بِمَعْرِفَةٍ    رَكِّبْ وَزِدْ عُجْمَةً فَالْوَصْفُ قَدْ كَمَلَا
Dari definisi Mamnu min as-Sharf diatas menjelaskan kepada kita bahwasanya dia terbagi menjadi dua, yang pertama yaitu :
·         Apa-apa yang menghalangi isim tersebut dari Mamnu’ min as-Sharf [ dari tanwin ] karena adanya satu illah yang terdapat pada isim tersebut, dan dia mencakup tiga perkara , yaitu :
1.      Karena Shighah muntahal jumu’ : ya’ni setiap jama’ taksir, setelah alif jama’ terdapat dua huruf, atau tiga huruf, atau pertengahan pada isim tersebut berharokat sukun. contoh masing-masing,..?
2.      Karena alif ta’niits mamdudah : ya’ni pada akhir isim tersebut terdapat Hamzah, contoh : صحراء – حمراء – ورقاء – أطباء – أصدقاء
3.       Karena alif ta’niits maqshuurah : ya’ni pada akhir isim tersebut terdpat alif, contoh : لَيْلَى – سَلْمَى - حُسْنَى
·         Apa yang menghalangi isim tersebut dari mamnu’ min as-sharf [ dari tanwin ] karena adanya dua ‘illah yang terdapat pada isim tersebut , dan dua ‘illah ini mesti salah satu diantara dua, yaitu,  Al-‘alamiyyah [ isim ‘alam ] atau  wasfiyyah [ sifat ] , kemudian digabungkan kepada ‘illah ini ‘illah-‘illah yang lain. Baarakallahu fiikum.
Yang pertama : isim-isim ‘alam yang terhalangi dari tanwin :
1.      Isim ‘alam muannats secara lafadh, atau isim ‘alam maunnats ma’nawi, atau  lafadh ma’nawi.
Contoh yang lafadhnya muannats, tapi ma’nanya bukan muannats  :   شعبة – معاوية – طلحة
Contoh muannats ma’nawi, tapi lafadhnya tidak :   ابتسام – زينب – خُلُوْد – رَبَاب - سعاد
Contoh isim ‘alam muannats ma’na dan lafadhnya : - خديجة – عائشة  فاطمة
2.      Isim ‘alam a’jamiyyah, contoh :  إسماعيل – إسحاق – إبراهيم
Faidah :
Ketahuilah-baarakallahu fiikum- bahwasanya seluruh nama-nama para Nabi, yang dikisahkan oleh Allah Subhanahu wata’alaa dan Rasul-Nya kepada kita mamnu’ min as-Sharf, kecuali 6 [ enam ] nama dari para Nabi tersebut, mereka itu adalah :
1.      Nuh ‘Alaihis salam
2.      Luuth ‘Alaihis salam
3.      Huud ‘Alaihis salam
4.      Shaalih ‘Alaihis salam
5.      Muhammad ‘Alaihish Shalatu wa salam
6.      Syu’aib ‘Alaihi salam
Tiga nama yang pertama, yaitu : Nuh, Luuth, dan Huud semuanya bisa ditanwin walaupun ‘Ajam, kenapa bisa ditanwin ? karena terdiri dari tiga huruf
Sedangkan tiga nama yang terakhir, yaitu Shaalih, Muhammad, dan Syu’aib  ditanwin, kenapa ditanwin ? karena asal mereka adalah orang Arab. Baarakallahu fiikum.
Demikian pula- Rahimakumullah- bahwasanya nama-nama para Malaikat semuanya yang dikhabarkan oleh Allah Subhanahu wata’alaa dan Rasul-Nya kepada kita  mamnu’ min as-Sharf. Kenapa nama-nama mereka mamnu’ min as-Sharf  ? karena ‘Alam dan ‘Ujmah. Kecuali malaikat Maalik, [ nama Malaikat penjaga Neraka ]
3.      ‘Alam murakkabah dengan tarkiiban mazjiyyan :
Para pakar Ahli Nahwu mereka membagi at-Tarkiib dengan beberapa macam, ada :
·         Tarkiiban idhaafiyyan : ya’ni antara mudhaf dan mudhafun ilaih, seperti contoh :   كتابُ محمدٍ
·         Tarkiiban isnaadiyyan : ya’ni kalimat yang tersusun dari Mubtada dan khabar atau fi’il dan fa’il.
·         Tarkiiban mazjiyyan : ya’ni seperti contoh, engkau mendatangkan dua kalimat lalu engkau jadikan dua kalimat tersebut seperti satu kalimat. Contoh : خضرموت kalimat ini terdiri dari dua kalimat, kalimat yang pertama adalah : خضر dan kalimat yang ke-dua adalah : موت
4.      ‘Alam yang diakhiri dengan Alif dan Nun tambahan, contoh : شعبان – رمضان – عثمان
5.      ‘Alam yang berwazan Fi’il, contoh : أحمد – يزيد – يشكر
6.      ‘Alam ma’duulah, contoh  عُمَر :
Yang ke-dua: sifat-sifat yang Mamnu’ min as-Sharf :
1.      Sifat yang diakhiri dengan Alif dan Nun tambahan, contoh :جوعان – عطشان – غضبان
2.      Sifat yang berwazan fi’il, contoh : أفضل – أحسن – أسوأ
3.      Sifat yang ma’duulah,  ini hanya terbatas pada dua perkara, yaitu :
·         ‘Adad-‘adad yang berwazan Maf’al dan fu’aal [ bilangan-bilangan yang berwazan Maf’al dan Fu’aal فُعَال – مَفْعَل  ] contoh : أُحاد – ومَوْحَد, ثُنَاء – ومَثْنَى, ثُلاث – ومَوْلَث, رُبَاع – ومَرْبَع...إلى عُشَار ومَعْشر
·         Kalimat :أُخَر
Mamnu’ min as-Sharf dikembalikan kepada asal ‘irabnya apabila masuk padanya aliflam atau di idhafahkan, maka pada keadaan yang seperti ini dijarkan dengan kasroh berdasarkan harokat asalnya. Adapun tanwin tetap terhalangi karena adanya aliflam atau di idhafahkan, contoh :
سِرْنا فى صَحْراءَ واسِعَةٍ
سِرْنا فى الصَّراءِ الغَرِيبَةِ
والله أعلم
كتبه : محمد رفقي بن جنيدي حفظه الله تعالى بمعهد المنصورة بنجار بارو
Ditulis : Muhammad Rifqy bin Junaidy  di ma’had Al Manshurah BanjarBaru Rabi’uts  Tsany 1435 H.